Jejak Kiai Banyuwangi

Meneladani KH Djunaidi Asmuni, Pendiri Pesantren Bustanul Makmur Genteng

Home / Opini / Meneladani KH Djunaidi Asmuni, Pendiri Pesantren Bustanul Makmur Genteng
Meneladani KH Djunaidi Asmuni, Pendiri Pesantren Bustanul Makmur Genteng Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)

TIMESMALANG, BANYUWANGI – Walaupun Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tak lantas perjuangan berhenti dan segera menyongsong masa gemilang. Perjuangan dengan mengangkat senjata masih terus berlanjut. Belanda yang mendapat dukungan dari para sekutunya, kembali ingin menjajah bangsa ini.

Sontak saja, maksud Belanda untuk menduduki kembali Republik Indonesia, ditentang habis-habisan oleh rakyat Indonesia. Hampir di seluruh pelosok tanah air mengangkat senjata. Termasuk di Pamekasan, Madura.

Di bawah kepemimpinan seorang tokoh kharismatik yang bernama Kiai Djunaidi Asmuni, rakyat Pamekasan mengankat senjata melawan penjajah. Mereka tergabung dalam Laskar Sabilillah bagi yang sudah tua, maupun ke Laskar Hisbullah bagi yang masih muda. Akan tetapi, karena keterbatasan kekuatan dan pengalaman perang, pasukan Kiai Djunaidi Asmuni dapat dipukul mundur oleh Pasukan Belanda yang tergabung dalam NICA.

Tak hanya dipukul mundur, markas pasukan yang bertempat di pesantrennya Kiai Djunaidi di Desa Nampere, Pamekasan, juga dibumi hanguskan. Semua bangunan dan kitab-kitab Kiai Djunaidi habis dilalap si jago merah. Parahnya lagi, Kiai Djunaidi, keluarga dan sejumlah pengikutnya pun terusir dari tanah kelahirannya.

Kiai Djunaidi dengan istrinya, Nyai Sholehah, beserta putranya lari dari sergapan NICA. Ia pergi ke Pulau Jawa melalui pelabuhan kecil di Dusun Pandan, Galis, Pamekasan. Dengan mengendarai perahu layar milik H. Abdul Latif, mereka menuju ke Probolinggo.

Selain Kiai Djunaidi, pada rombongan pelarian itu, juga terdapat Kiai Zaini Mun’im. Jika Kiai Zaini menetap di Probolinggo dan mendirikan Pesantren Nurul Jadid di Paiton. Kiai Djunaidi melanjutkan perjalanannya ke Sukorejo, Situbondo. Ia tinggal di Pesantren Salafiyah Syafiiyah yang didirikan oleh salah seorang kerabatnya, KH. Raden Syamsul Arifin.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com