Sosialisasi Literasi Keuangan, Mahasiswa Unira Malang Kenalkan KUR

Home / Pendidikan / Sosialisasi Literasi Keuangan, Mahasiswa Unira Malang Kenalkan KUR
Sosialisasi Literasi Keuangan, Mahasiswa Unira Malang Kenalkan KUR Sosialisasi literasi keuangan oleh Mahasiswa KKN Tematik Unira Malang di Desa Sukodono, Dampit, Kanupaten Malang, Rabu (21/8/2019). FOTO: Dena Setya Utama/TIMES Indonesia

TIMESMALANG, MALANG – Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok KKN Tematik Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang kenalkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui sosialisasi literasi keuangan kepada warga Desa Sukodono, Dampit, Kabupaten Malang, Rabu (21/8/2019).

Ketua Kelompok KKN Tematik Unira Malang, Risang Mone mengatakan sosialisasi ini bertujuan untuk membangun kesadaran warga dalam memilih lembaga simpan pinjam yang tepat dan tidak merugikan.

"Contoh saja di Desa Sukodono ini, sektor pertanian memiliki potensi cukup baik dan ini memungkinkan untuk dikembangkan dengan bantuan modal KUR," katanya.

Desa Sukodono sendiri memiliki komoditas kopi, cengkeh, dan salak yang menjadi penggerak utama warga desa dalam mengembangkan ekonomi.

Lebih lanjut Risang menjelaskan selain dengan potensi pertanian yang bermacam-macam itulah terdapat pula kendala dalam berwirausaha yakni modal. 

Sementara itu, salah satu warga juga kenyetujui penjelasan Risang bahwa hingga saat ini, perjuangan memperoleh modal melalui simpan pinjam sudah menjadi proyek andalan bagi warga pedesaan. "Itu terjadi karena fakta di lapangan seperti yang terjadi di Desa Sukodono sini," katanya

Aktifitas simpan pinjam memang memiliki kemampuan dalam mendorong peningkatan produktifitas ekonomi warga. "Akan tetapi, aktifitas simpan pinjam yang diminati oleh warga Desa Sukodono sebagian besar malah membebani warga akibat bunga yang terlalu besar," ungkapnya.

Meskipun bunganya besar, adanya kemudahan berupa pinjaman tanpa jaminan, tanpa survei yang dicanangkan oleh rentenir, sebuah lembaga yang berkedok simpan pinjam inilah yang menggiurkan warga.

"Tidak perlu disurvei, tidak perlu jaminan, sudah bisa dapat pinjaman kalau ke rentenir, kalau ke bank ribet," bebernya.

Prasetya yang menjadi penanggung jawab Desa Sukodono mengaku sosialisasi ini penting untuk dilakukan untuk membangun kesadaran warga desa agar tercipta iklim kondusif di sektor usaha dan kesejahteraan warga.

"Aktifitas simpan pinjam tetap didukung, akan tetapi, kegiatan simpan pinjam melalui fasilitas perbankan Kredit Usaha Rakyat (KUR) lebih disarankan meskipun terdapat syarat dan jaminan, hal ini tidak terlalu membebani di kemudian hari," harapnya.

Sosialisasi literasi keuangan ini menjadi sorotan penting bagi Desa Sukodono sendiri. Karena, terdapat 9 kelompok tani yang memerlukan pelajaran tentang bagaimana cara berbisnis, bagaimana mengelola permodalan dan cara mengatur uang.

"Bagaimana cara agar simpan pinjam tidak lari ke rentenir atau saudagar tapi menggunakan fasilitas pada perbankan," ujar Prasetya.

Selain itu Dosen Ekonomi Unira Malang yang menjadi narasumber, Doni Teguh W juga berharap dengan sosialisasi literasi keuangan ini semoga modal masyarakat dapat terpenuhi agar tidak suka pinjam ke rentenir. Karena akan tambah membebani masyarakat sebetulnya. "Semoga kelompok tani juga bisa membantu mengolah dengan mandiri hasil di ladangnya, menjadi produk yang bagus, dan bisa mengayomi perekonomian desa, khususnya di Desa Sukodono," pungkasnya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com