Kolom Denny JA: Hikmah Pilpres 2019, Too Long, Too Risky, dan Perlunya KPU 2.0

Home / Kopi TIMES / Kolom Denny JA: Hikmah Pilpres 2019, Too Long, Too Risky, dan Perlunya KPU 2.0
Kolom Denny JA: Hikmah Pilpres 2019, Too Long, Too Risky, dan Perlunya KPU 2.0 Denny Januar Ali. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESMALANG, JAKARTAFounder LSI yang juga Bapak Riset Opini Publik Indonesia, Denny JA akan menulis kolom Denny JA untuk TIMES Indonesia. Ediai perdana ini menyajikan wacana KPU 2.0. Apa itu?

***

Terlalu lama dan terlalu berisiko. Too Long, Too Risky. Itulah ringkasan dalam satu kalimat jika saya harus mengomentari soal jadwal kerja KPU. Hari pencoblosan dilakukan tanggal 17 April 2019. Tapi pengumuman resmi KPU dilakukan tanggal 22 Mei 2019. 

Sementara kubu yang satu membuat perayaan kemenangan di sana dan di sini. Kubu lain membuat perayaan kemenangan versinya sendiri. Aneka hiruk pikuk, dengan segala adegan komedi dan tragedi dipertontonkan.

Untuk meyakinkan publik bahwa perhitungan versinya yang benar, aneka hoax dan fitnah atas pihak lain disebar. Bahkan distrust kepada lembaga resmi ikut dikembang biakan. Ruang publik menjadi gerah dan berpolusi. Terlalu banyak dusta yang masuk ke handphone, lewat facebook, twitter dan instagram.

Publik luas dalam negeri dan di luar negeri dibingungkan. Bagaimana mungkin di Indonesia ada dua perayaan kemenangan pemilu presiden dengan hasil berbeda?

Mereka bertanya: lalu siapa yang dinyatakan resmi sebagai pemenang? Kapankah penetapan resmi pemenang? Berdasarkan  jadwal resmi yang sudah ditetapkan, jawaban kita: tunggu 35 hari kemudian.

Ha? 35 hari? Are you kiddding me? Di era digital, you butuh 35 hari?

***

Begitulah. Sekitar 35 hari publik Indonesia dibiarkan menunggu siapa yang akhirnya ditetapkan sebagai pemenang. Sekitar 35 hari pula kita tak bisa melarang aneka kubu politik berjumpalitan membuat klaim kemenangan.

Tapi itulah prosedur kerja perhitungan suara resmi yang ditetapkan oleh KPU. Kita menyebutnya ini produk KPU 1.0. 

Di era digital, harus dicari cara yang lebih cepat, tapi tetap akurat. Jadwal resmi pengumuman pemenang pemilu presiden diupayakan paling lama satu minggu saja. 

KPU di era digital harus diubah dari KPU 1.0 menjadi KPU 2.0. Slogan KPU 2.0: Kami lebih cepat. Dan Kami Tetap Akurat! Bisakah?

***

Mengapa begitu lama KPU masa kini, yang saya sebut KPU 1.0 menghitung suara nasional pemilu 2019? Perhitungan suara dibuat berjenjang.

Saya baca lagi jadwal itu. Tanggal 18 April hingga 4 Mei. Itu untuk rekapitulasi dan penetapan hasil perhitungan suara tingkat kecamatan. Di tingkat ini saja butuh waktu 16 hari. Ditambah satu hari lagi tanggal 5 Mei 2019 sebagai hari pengumuman dan penetapan resmi.

Dari tingkat kecamatan, naik ke tingkat kabupaten. Itu butuh sekitar 3 hari tambahan (8 Mei 2019). Dari tingkat kabupaten naik ke tingkat provinsi. Kembali dibutuhkan 4 hari tambahan (12 Mei 2019).

Dari tingkat provinsi ke tingkat nasional. Kembali membutuhkan tambahan 1 hari (13 Mei 2019). Ditingkat pusat, suara nasional ditambahkan dengan suara luar negeri. Dibutuhkan tambahan 9 hari. Penetapan hasil resmi KPU tanggal 22 Mei 2019.

Pencoblosan tanggal 17 April 2019. Pengumuman hasil resmi KPU tanggal 22 Mei 2019. Selisih 35 hari.

Selisih 35 hari ini masuk akal untuk KPU 1.0. Tapi di era digital, Too long. Di era belum matangnya para politisi, ditambah satu kata lagi: Too Risky!

***

Pemilu akan selalu kita adakan setiap lima tahun. Perlu dibuat terobosan. Bagaimana caranya agar jarak antara hari pencoblosan hingga hari pengumuman resmi paling lama satu minggu saja.

Teknologi sudah sedemikian maju. Dunia sudah melahirkan Sophie, robot yang bisa kita ajak berdiskusi. Peradaban sudah sampai ke sana: membuat rencana generasi pertama manusia untuk hidup di planet Mars.

Apa iya kita tak bisa ikut ikutan membuat terobosan, yang bisa menyingkat jarak pencoblosan pemilu dan pengumuman resminya, dari 35 hari menjadi 7 hari saja?

Di tahun 2024, kita harap sudah bersama kita lahirnya KPU 2.0!

Bukan hanya dunia digital seharusnya memungkinkan itu. Jika selisih waktu terlalu lama, terlalu banyak klaim kemenangan, yang tidak menarik untuk ditonton.

***

Kolom Denny JA ini bisa Anda ikuti di TIMES Indonesia. Setelah KPU 2.0, tunggu kolom selanjutnya besok ya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com