Mas Wendo, Harry Tjahjono dan Anak-Anak Lapindo Itu...

Home / Kopi TIMES / Mas Wendo, Harry Tjahjono dan Anak-Anak Lapindo Itu...
Mas Wendo, Harry Tjahjono dan Anak-Anak Lapindo Itu... Arswendo Atmowiloto. (foto: Istimewa)

TIMESMALANG, JAKARTA – Wartawan senior, penyair, cerpenis, penulis naskah, bahkan seniman serba bisa yang super kreatif ini, Arswendo Atmowiloto (70 tahun), meninggal dunia Jumat (19/7/2019) karena kanker prostat yang dideritanya.

Saya mengenal dekat Mas Wendo - begitu ia biasa dipanggil - dari karibnya, Mas Harry Tjahjono (penulis 100 naskah Si Doel Anak Sekolahan). Perkenalan pada awal bencana Lapindo, Sidoarjo, beberapa tahun lalu.

Mas Wendo dan Mas Harry, datang ke Surabaya tahun 2007-an. Ia ingin membuat teater anak-anak korban Lapindo di Sidoarjo. Mereka pu  menunjuk saya yang jadi pimpronya. 

Berminggu-minggu kami bertemu di Sidoarjo. Mencari anak-anak para pengungsi Lapindo. Yang punya bakat dan minat kreatif, diajak bareng main drama dan baca puisi. Sekedar pelipur lara. Kelak karya anak-anak ini dipentaskan di Jakarta. Disaksikan sejumlah menteri dan tokoh nasional. Semua dibiayai Mas Wendo. Mungkin ada sponsor atau donatur di baliknya.

Bertemu Mas Wendo dan Mas Harry berminggu-minggu di Sidoarjo, seperti sedang berlatih kecerdasan dan daya kreatif yang serba membebaskan. Tanpa ada pembatas apapun. 

Kami berdiskusi banyak hal. Tertawa berhari-hari. Mereka perokok berat. Orang-orang pintar penuh literasi, penuh percaya diri, dan mengetahui banyak hal. Brilian dan inovatif. Humanis. Penuh dedikasi. Penuh kasih sayang. Dan tentu, sangat peduli terhadap keluarga dan anak-anak.

Serial keluarga yang pernah tayang di TVRI, "Keluarga Cemara" adalah hasil karya mereka berdua. Termasuk menulis lagunya. Begini liriknya: "Harta yang paling indah adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga ."

Novel terbaik Mas Wendo, saya kira adalah "Canting". Isinya mengambil setting keluarga pembatik kaya tapi bangkrut. Novel ini ditulis dengan cermat dan detail. Pembaca seperti diajak berada dalam keluarga itu sendiri.

Arswendo Atmowiloto lahir di Solo, Jateng, 26 November 1948. Meninggal di Jakarta, 19 Juli 2019 pada umur 70 tahun.

Penulis  cerpen, novel, naskah drama, dan skenario film ini pernah kuliah di IKIP Solo. Namun tidak tamat. Sebagaimana banyak orang hebat justru karena tidak tamat kuliah seperti Emha Ainun Najib, Putu Wijaya, WS Rendra, Dahlan Iskan, dan banyak lagi.

Mas Wendo pernah jadi Pimred majalah  "Hai", "Monitor", "Senang". Setelah "Monitor" dibreidel dan setelah Wendo keluar dari penjara, ia menghidupkan tabloid "Bintang Indonesia" dan Pro-TV. Termasuk tabloid anak-anak "Bianglala" era tahun 2000-an.

Saat tabloid "Bintang Indonesia" dan "Pro-TV" mengorbit, kala itu, kebetulan saya jadi Pimred Tabloid X-file (Jawa Pos Group). Saat itulah sekali waktu kami bertemu di Jakarta. Termasuk saat Mas Harry Tjahjono terlibat di PH Pipa Production,

"Eidiaan .. tabloidku mbok antem terus," kelakar mereka, saat bertemu. Ya, tabloid mereka "Pro-TV" terlalu sopan. Sedang kami mengendalikan "tabloid X-file" yang keras dan kaya gosip. Oplahnya kami lampaui.

Sebelum menjamurnya infotainment mulai 1998 hingga sekarang, tabloid gosiplah yang merajai pasaran.

Mas Wendo juga membuat berbagai program TV. Mas Wendo, dengan novel2nya, termasuk tabloid "Bianglala", atau "Keluarga Cemara", tampak sekali sangat peduli terhadap anak-anak.

Wendo pernah membuat film "Pacar Ketinggalan Kereta", "Anak-Anak Borobudur", "Arie Hanggara". Serial TV "Keluarga Cemara" yang ditayangkan TVRI pada jamannya, adalah yang paling fenomenal.

Bagi yang mengenal Mas Wendo, kita akan tahu sosok "jiwa Pendeta" yang sangat peduli pada keluarga dan anak-anak.

Hingga pada akhirnya, saat ada bencana Lapindo di Sidoarjo awal 90-an, "orang-orang keluarga Cemara" yang humanis dan penuh cinta kasih ini, bertemu saya lagi. Membuat teater anak-anak, main drama, dan baca puisi.

Sampai sekarang saya tak tahu kenapa Mas Wendo dan Mas Harry Tjahjono memilih saya jadi pimpronya teater anak-anak Lapindo ini. Saya bukan aktivitis dunia anak.

Yang jelas, yang saya lihat saat pementasan pertama di pendapa Pemkab Sidoarjo yang dihadiri Bupati Saiful Illah itu, Mas Wendo tampak berlinang air mata melihat anak-anak korban Lapindo ini bisa bersuka cita melalui drama dan baca puisi.

Kini, dunia seni lah yang berlinang air mata, melepas kepergian Mas Wendo. Sugeng tindak, Mas. (*)

* Penulis adalah Damarhuda, sahabat almarhum, owner DMR Production

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com